PLTSa Samarinda Butuh Pasokan 1.000 Ton Sampah per Hari

SAMARINDARencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kota Samarinda disebut dapat berjalan lebih optimal apabila didukung ketersediaan bahan baku yang memadai. Kebutuhan sampah PLTSa mencapai sedikitnya 1.000 ton per hari membuat kerja sama dengan daerah sekitar menjadi syarat penting agar fasilitas tersebut dapat beroperasi secara berkelanjutan.

Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Andriansyah, mengatakan volume sampah yang dihasilkan Kota Samarinda saat ini masih berada di bawah kebutuhan operasional PLTSa. Karena itu, pasokan tambahan dari daerah tetangga menjadi solusi yang perlu disiapkan sejak tahap perencanaan.

“Minimal 1.000 ton per hari. Makanya kita mesti menggandeng kabupaten dan kota terdekat seperti Balikpapan dan Kutai Kartanegara,” ujarnya, Jumat (7/8/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan kondisi saat ini, produksi sampah harian Kota Samarinda berkisar 600 ton. Jumlah tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan minimal pembangkit apabila proyek PLTSa mulai beroperasi.

Menurut Andriansyah, kolaborasi antardaerah tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan bahan baku, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam membangun sistem pengelolaan sampah regional di Kalimantan Timur.

"Kalau kerjasama gitu kan, persoalan sampah tidak lagi ditangani secara parsial oleh masing-masing pemerintah daerah," terang Andriansyah.

Ia menilai konsep pengelolaan regional juga sejalan dengan arah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mendorong sinergi antardaerah penyangga, termasuk dalam penyediaan infrastruktur dasar dan pengelolaan lingkungan.

Sebagai informasi, PLTSa merupakan fasilitas yang mengolah sampah menjadi energi listrik melalui teknologi termal maupun teknologi pengolahan lainnya. “Keberlangsungan operasional pembangkit sangat bergantung pada kontinuitas pasokan sampah dengan volume yang stabil agar proses pembangkitan listrik tetap efisien,” kata dia. (adv)

Penulis: Hairil Riswan