TANJUNG REDEB - Kondisi Kabupaten Berau yang masih dihantui Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) membuat Bupati Berau Sri Juniarsih bertindak serba cepat. Tak hanya meninjau lokasi lahan yang terbakar, Bupati Berau juga langsung membuat surat resmi ditujukan ke pemerintah pusat yang menangani Karhutla, yakni Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Surat resmi ke BNPB yang
dilayangkan adalah pengajuan meminta rekayasa cuaca, agar hujan bisa lebih
cepat turun di Kabupaten Berau. Rekayasa cuaca agar hujan ini turun adalah
selain mengurangi kabut asap, juga menjadi sumber air bagi lahan pertanian
masyarakat.
"Selain kabut asap
yang masih tebal lantaran Karhutla yang tak kunjung usai, kemarau panjang juga sudah
mengancam pertanian warga. Sebagai Bupati, tanggung jawab saya bukan cuma
bicara tapi bertindak," tegasnya.
Tak berhenti sampai
disitu, ikhtiar lain juga dilakukan Pemkab Berau dengan mengajak masyarakat
melakukan salat Istisqo, yang dilakukan beberapa hari lalu. Namun, hingga saat
ini belum ada tanda-tanda akan turun hujan di Berau meskipun sudah ada gerimis.
"Satu hal yang saya
minta dari kita semua, jangan buka lahan dengan cara dibakar. Mari sama-sama
jaga Berau," harapnya.
Rekayasa hujan buatan
atau Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) adalah metode untuk merangsang awan agar
menghasilkan curah hujan lebih cepat menggunakan bantuan pesawat. Untuk cara
kerja hujan buatan adalah petugas menaburkan bahan khusus seperti garam dapur
(NaCl) ke dalam awan potensial. (mel/nk/adv)

