TALISAYAN – Salah satu daya tarik wisata Kabupaten Berau adalah tradisi budaya lokal yang tak pernah lekang digerus zaman. Seperti prosesi adat Tulak Bala Buang Naas di Kecamatan Talisayan, yang sampai saat ini masih terus dilestarikan.
Tradisi ini menjadi
menarik karena menunjukkan bagaimana cara masyarakat pesisir menjaga
hubungan dengan alam, sekaligus merawat kebersamaan yang telah diwariskan dari
generasi ke generasi.
Mengusung tema “Merawat
Silaturahmi, Melestarikan Adat Bahari untuk Talisayan Berkah dan Harmoni”,
tradisi adat yang digelar di pendopo Kecamatan Talisayan pada Selasa (12/8)
sore ini dihadiri Wabup Berau Gamalis.
Wakil Bupati Berau,
Gamalis, mengapresiasi masyarakat yang tetap menjaga tradisi tersebut di tengah
keterbatasan pelaksanaan kegiatan tahun ini. Nilai-nilai luhur yang terkandung
dalam adat bahari perlu terus dirawat. Terlebih tradisi tersebut juga memiliki
potensi untuk memperkuat daya tarik pariwisata di wilayah pesisir selatan
Berau.
“Ini bagian dari
kebudayaan masyarakat Talisayan yang harus kita jaga. Kita ingin masyarakat
terus maju, tetapi tidak kehilangan jati dirinya,” katanya.
Gamalis menilai kemajuan
teknologi dan derasnya arus informasi melalui media sosial menjadi tantangan
tersendiri bagi keberlangsungan adat dan budaya lokal. Karena itu, generasi
muda perlu diperkenalkan dan dilibatkan dalam berbagai kegiatan adat agar tradisi
tidak terputus.
Dia mendorong agar
pelestarian adat berjalan beriringan dengan pengembangan sektor pariwisata.
Tradisi lokal, menurutnya, dapat menjadi kekuatan yang membedakan suatu daerah
sekaligus memperkaya pengalaman wisatawan yang berkunjung ke wilayah pesisir
Berau.
Tradisi Tulak Bala Buang
Naas sendiri menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT)
Kampung Talisayan sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kepala Kampung Talisayan,
Ali Wardana, mengatakan tradisi tersebut telah dilaksanakan sejak dahulu dan
terus dipertahankan hingga saat ini. Selain sebagai bentuk doa bersama,
kegiatan ini menjadi ikhtiar masyarakat untuk memohon perlindungan dan
keselamatan kepada Allah SWT.
“Karena masyarakat
Talisayan sangat dekat dengan laut, kami berharap seluruh aktivitas masyarakat
di pesisir selalu diberikan perlindungan dan keselamatan. Tradisi ini juga
menjadi sarana silaturahmi sekaligus identitas daerah,” ujarnya.
Salah satu bagian penting
dalam prosesi adalah Buang Naas, yang ditandai dengan penyiraman air linjuang
kepada perwakilan anak masyarakat kampung. Air tersebut sebelumnya telah
disiapkan dan dibacakan doa.
Prosesi diawali oleh
tetua adat, kemudian dilanjutkan Wakil Bupati Berau Gamalis bersama pejabat dan
unsur masyarakat yang hadir. Bagi masyarakat Talisayan, tradisi ini bukan
sekadar rangkaian kegiatan adat. Di dalamnya terdapat pesan untuk memanjatkan
doa bersama, memohon keselamatan serta menjauhkan kampung dari segala
marabahaya. (mel/nk/adv)

