TANJUNG REDEB - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Kabupaten Berau sejak 24 Agustus 2026, menunjukkan dampak positif. Jumlah titik panas (hotspot) berkurang drastis sejak jalannya program ini.
"Berdasarkan data BMKG per 24 Agustus
2026 kemarin, sebelumnya hotspot di Berau mencapai 281 titik. Namun sejak
jalannya OMC, hotspot turun drastis menjadi 51 titik," beber Sri Juniarsih
dalam Rapat Paripurna DPRD Berau, Rabu (26/8/2026) siang.
Berkurangnya jumlah titik hotspot itu
menggeser posisi Berau ke peringkat kedua se-Kalimantan Timur, sebagai pemilik
titik api terbanyak. Sedangkan di peringkat pertama ada Kabupaten Kutai
Kartanegara dengan jumlah hotspot sebanyak 74 titik.
51 titik panas yang masih terdeteksi di
Kabupaten Berau tersebar di beberapa kecamatan yakni Kecamatan Segah 18 titik,
Pulau Derawan 10 titik, Teluk Bayur 8 titik, Sambaliung 5 titik, Biduk-Biduk 4
titik, Batu Putih dan Kelay masing-masing 2 titik, Gunung Tabur dan Tabalar
masing-masing 1 titik.
Meski menunjukkan penurunan, Sri Juniarih mengimbau
seluruh elemen masyarakat tidak lengah dan tidak melakukan pembakaran lahan
secara sembarangan. Mengingat, cuaca ekstrem diproyeksikan masih berlangsung
hingga awal 2027.
“Pemerintah Daerah telah bekerja sama dengan
BPBD, Damkar, TNI, Polri, serta perusahaan swasta. Kita tidak ingin upaya
penanganan ini sia-sia hanya karena kelalaian oknum,” tegasnya.
Sri Juniarsih berharap, titik hotspot bisa
terus berkurang. Peran semua pihak, lintas sektor hingga masyarakat sangat
mempengaruhi kondisi Berau saat ini. Selain itu, dengan berkurangnya titik
panas maka dampak kabut asap pun dipastikan akan ikut berkurang.
"Kalau terus berkurang, maka kondisi
udara Berau juga akan semakin bagus dan aktivitas masyarakat bertahap bisa
kembali normal. Sektor pendidikan bisa kembali belajar di sekolah, dan
kesehatan masyarakat Berau juga semakin membaik," pungkasnya. (mel/nk/ADV)

