Sudah Sholat, Kok Masih Emosi?

SAMARINDA – Sholat bukan sekadar rangkaian gerakan dan bacaan yang ditunaikan untuk menggugurkan kewajiban. Lebih dari itu, sholat seharusnya menjadi jalan bagi seorang Muslim untuk mengingat Allah, menenangkan hati sekaligus membentuk akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut mengemuka dalam Kajian Fikih Wanita Provinsi Kalimantan Timur bertajuk “Sudah Sholat, Kok Masih Emosi?” yang digelar Jumat (25/9/2026) pagi di Masjid Nurul Mukminin Pemprov Kalimantan Timur.

Kajian yang dimulai pukul 08.30 WITA tersebut menghadirkan Ustadzah Hayati Fashihah, Lc., MA sebagai pemateri dan terbuka bagi seluruh muslimah.

Dalam kajiannya, Ustadzah Hayati menjelaskan bahwa sholat merupakan ibadah wajib yang salah satu tujuan utamanya membentuk pribadi yang mampu menjauhi perbuatan mungkar. Karena itu, kualitas sholat semestinya tercermin dalam sikap dan perilaku seseorang setelah ia menyelesaikan ibadah tersebut.

Persoalan kemudian muncul ketika seseorang rajin sholat, tetapi masih mudah marah, sulit mengendalikan emosi atau bahkan terbiasa menyakiti orang lain melalui perkataan maupun tindakan.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa pelaksanaan sholat masih berhenti pada aspek fisik dan lisan, belum sepenuhnya menyentuh hati dan pikiran.

“Sholat adalah mengingat Allah agar hati menjadi tenang. Kalau seseorang masih mudah marah, perlu melihat kembali bagaimana kualitas sholatnya,” menjadi salah satu pesan penting dalam kajian tersebut.

Ia menjelaskan, ada sejumlah hal yang dapat membuat seseorang belum merasakan pengaruh sholat terhadap ketenangan dan pengendalian diri. Di antaranya sholat yang dilakukan tergesa-gesa, hati yang tidak hadir atau kurang khusyuk, serta belum memahami makna bacaan-bacaan dalam sholat.

Selain itu, kondisi psikologis seperti kelelahan dan stres juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang mengendalikan emosi. Faktor kebiasaan dan lingkungan, termasuk pola pendidikan sejak kecil yang diwarnai kekerasan, juga dapat membentuk respons emosional seseorang. Karena itu, perbaikan kualitas sholat perlu berjalan beriringan dengan upaya memperbaiki akhlak.

Sholat tidak cukup hanya dilakukan sebagai rutinitas lima kali sehari, tetapi perlu dihadirkan sebagai proses untuk terus mengingat Allah dan mengevaluasi diri. Dengan demikian, nilai-nilai yang terkandung dalam sholat dapat terbawa ke dalam kehidupan keluarga, lingkungan kerja dan hubungan sosial.

Salah seorang jamaah, Irma Soraya Hanun, mengapresiasi penyampaian materi yang menurutnya mudah dipahami. “Bagus, cara penyampaiannya jelas, padat dan lembut,” ujarnya.

Menurut Irma, pendekatan penyampaian yang tidak menggurui membuat materi kajian lebih mudah diterima dan direnungkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Marliana Wahyuningrum, selaku inisiator kegiatan pengajian bulanan, mengungkapkan rasa syukurnya karena jumlah peserta kajian terus bertambah.

Ia berharap pengajian tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk menambah pengetahuan keislaman, tetapi juga menjadi wadah bagi para muslimah untuk melakukan refleksi dan memperbaiki diri.

“Alhamdulillah, peserta pengajian semakin bertambah. Kami bersyukur kegiatan ini mendapat sambutan yang baik. Harapannya, kajian ini semakin bermanfaat untuk umat, tidak hanya menambah ilmu, tetapi juga mendorong kita mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” kata Marliana.

Menurutnya, pengajian bulanan tersebut diharapkan dapat terus berkembang menjadi ruang silaturahmi, pembelajaran dan penguatan spiritual bagi perempuan di Kalimantan Timur.

Kajian “Sudah Sholat, Kok Masih Emosi?” pun mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan ibadah tidak berhenti ketika seseorang mengucapkan salam di akhir sholat. Tantangan berikutnya adalah bagaimana nilai-nilai sholat itu hadir dalam cara berbicara, mengendalikan emosi, memperlakukan keluarga dan berinteraksi dengan sesama.

Sebab, sholat yang dihayati bukan hanya menenangkan hati saat berada di atas sajadah, tetapi diharapkan juga membentuk perilaku ketika seseorang kembali menjalani kehidupan di luar masjid. (*)

Sumber : Pers Rilis