SAMARINDA - Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag., dikenal melalui gagasan yang berupaya mempertemukan tradisi keilmuan Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan persoalan masyarakat kontemporer.
Selain menjalankan aktivitas akademiknya di UIN Walisongo Semarang,
Prof. Ilyas Supena juga mengajar pada Program Doktor Studi Islam Pascasarjana
UIN Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda. Pada program doktoral
tersebut, ia mengampu mata kuliah Filsafat dan Epistemologi Islam, bidang yang
memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan intelektual dan karya-karyanya.
Kehadiran Prof. Ilyas di ruang akademik doktoral UINSI Samarinda menjadi
bagian dari proses pertukaran gagasan keilmuan, khususnya mengenai bagaimana
Islam membangun pengetahuan, memahami realitas, serta merespons perkembangan
ilmu pengetahuan dan perubahan zaman.
Pemikirannya bergerak pada sejumlah bidang, antara lain filsafat ilmu
keislaman, epistemologi, hermeneutika, hubungan sains dan agama, dakwah, hingga
persoalan keberagamaan di ruang digital.
Salah satu gagasan yang menonjol dalam pemikirannya adalah Unity of
Sciences atau kesatuan ilmu pengetahuan. Paradigma ini menempatkan ilmu agama
dan ilmu umum bukan sebagai dua wilayah yang harus dipertentangkan, melainkan
sebagai bidang pengetahuan yang dapat saling melengkapi dalam memahami
realitas.
Dalam kerangka tersebut, wahyu dan alam semesta dipandang berasal dari
sumber yang sama. Karena itu, pengembangan ilmu pengetahuan tidak semestinya
menjauh dari nilai-nilai spiritual, sementara kajian keislaman juga perlu
terbuka terhadap perkembangan sains, ilmu sosial, dan humaniora.
Menempatkan Epistemologi sebagai Fondasi
Perhatian Prof. Ilyas terhadap epistemologi menjadi bagian penting dalam
perjalanan intelektualnya. Kajian mengenai epistemologi tidak hanya menyangkut
apa yang diketahui manusia, tetapi juga bagaimana pengetahuan diperoleh, diuji,
dan digunakan untuk memahami realitas.
Dalam konteks pemikiran Islam, persoalan tersebut menjadi penting karena
perkembangan ilmu pengetahuan menuntut adanya dialog antara sumber-sumber
pengetahuan keislaman dengan perkembangan rasionalitas dan ilmu modern.
Corak bayani, burhani, dan irfani menjadi bagian dari diskursus mengenai
keragaman metode dalam memperoleh pengetahuan. Dalam konteks Indonesia, gagasan
tersebut kemudian beririsan dengan pembahasan mengenai epistemologi Islam
Nusantara.
Membaca Al-Qur'an dalam Dialog dengan Zaman
Pemikiran Prof. Ilyas juga berkembang pada wilayah hermeneutika,
terutama dalam membaca hubungan antara teks dan konteks. Dalam kajiannya
mengenai hermeneutika Al-Qur'an, ia menggunakan pemikiran filsuf Jerman
Hans-Georg Gadamer, khususnya konsep fusion of horizons atau fusi cakrawala.
Pendekatan tersebut melihat proses memahami teks sebagai perjumpaan
antara cakrawala teks dengan cakrawala pembaca. Penafsir membawa pengalaman,
persoalan sosial, pengetahuan, dan konteks zamannya ketika berhadapan dengan
teks.
Dengan pendekatan itu, Al-Qur'an tidak hanya dibaca sebagai teks yang
berkaitan dengan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber nilai yang terus
didialogkan dengan persoalan kehidupan manusia pada setiap zaman.
Mempertemukan Sains dan Agama
Hubungan antara sains dan agama juga menjadi salah satu perhatian Prof.
Ilyas Supena. Melalui gagasan tentang titik temu sains dan agama, ia melihat
keduanya memiliki ruang kontribusi masing-masing. Sains membantu manusia
memahami realitas secara empiris, sedangkan agama memberikan orientasi nilai,
moral, dan makna dalam kehidupan.
Kerangka tersebut menjadi bagian dari upaya menghindari pandangan yang
menempatkan agama dan sains sebagai dua wilayah yang harus saling berhadapan.
Dakwah Inklusif dan Tantangan Ruang Digital
Pemikiran Prof. Ilyas juga menyentuh persoalan dakwah, toleransi, dan
perkembangan ruang publik digital. Melalui konsep teologi dakwah inklusif dan
pendidikan toleransi berbasis etika profetik, ia menekankan pentingnya dakwah
yang mengedepankan dialog, penghormatan terhadap perbedaan, dan nilai-nilai
kemanusiaan.
Sementara dalam menghadapi perkembangan ruang digital, pemikirannya
mengenai deradikalisasi melalui perspektif Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah (Aswaja)
menempatkan nilai tawassuth atau sikap moderat sebagai bagian dari strategi
menghadapi narasi keagamaan yang ekstrem.
Dari Guru Besar ke Ruang Kelas Doktoral
Aktivitas Prof. Ilyas sebagai pengajar pada Program Doktor Studi Islam
UINSI Samarinda memperlihatkan bagaimana gagasan akademiknya tidak hanya hadir
dalam karya-karya ilmiah, tetapi juga didiskusikan secara langsung di ruang
kelas.
Mata kuliah Filsafat dan Epistemologi Islam menjadi ruang bagi mahasiswa
doktoral untuk mengkaji persoalan mendasar mengenai hakikat ilmu, sumber
pengetahuan, metode memperoleh pengetahuan, serta hubungan antara rasionalitas
dan wahyu.
Di ruang akademik doktoral, diskusi tersebut menjadi relevan karena
mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mengembangkan
kemampuan kritis untuk merumuskan persoalan dan penelitian dalam studi Islam.
Spektrum pemikiran Prof. Ilyas Supena pada akhirnya memperlihatkan satu
benang merah: upaya mempertemukan teks dan konteks, iman dan rasionalitas,
tradisi dan modernitas, serta ilmu keislaman dengan perkembangan ilmu
pengetahuan.
Melalui aktivitas akademik dan karya-karyanya, termasuk pengajaran di
Program Doktor Studi Islam UINSI Samarinda, gagasan tersebut terus didialogkan
dengan generasi akademisi yang akan turut membentuk arah perkembangan pemikiran
Islam di Indonesia. (fnd)
Sumber : Pers Rilis
