TANJUNG REDEB - Salah satu dampak Karhutla yang cukup terasa di Kabupaten Berau adalah meningkatnya kasus penyakit ISPA. Bahkan, usia anak-anak menjadi pasien terbanyak yang tercatat. Usia anak-anak dan lansia memang masuk menjadi usia rentan terserang ISPA. Hal ini jugalah yang melandasi kebijakan adanya perubahan sistem pembelajaran di sekolah menjadi Belajar Dari Rumah (BDR).
"Saya melihat di dua
puskesmas hari ini, banyak pasien anak-anak yang ternyata mengalami gangguan
pernafasan. Ini menunjukkan kalau ISPA lebih cepat menyerang anak-anak. Untuk
sementara aktivitas luar rumah yang berhubungan dengan batita maupun balita
sebaiknya ditiadakan," ungkap Wakil Bupati Berau Gamalis ditemui usai meninjau
Puskesmas Kampung Bugis, Kamis (3/9/2026) pagi.
Gamalis menyebut akan
segera membahas hal ini bersama Forkopimda, dan mengeluarkan surat edaran untuk
meniadakan aktivitas posyandu yang notabene mengumpulkan anak usia batita dan
balita.
"Dewasa saja banyak
yang tumbang karena gejala ISPA, apalagi anak-anak? Kesehatan masyarakat
menjadi hal yang tak bisa ditunda," tegas Gamalis.
Pemkab Berau telah meletakkan
kesehatan sebagai salah satu prioritas yang tak bisa ditawar. Potensi aktivitas
yang bisa menambah angka penderita ISPA harus segera diputus. "Salah
satunya dengan mengurangi aktivitas di luar rumah. Dan kalaupun harus terpaksa
keluar rumah, usahakan menggunakan masker," imbau Gamalis. (mel/nk/ADV)

