DPRD Samarinda Bedah Indikator SDM, Pansus LKPJ Soroti Validitas Angka IPM hingga Pengangguran

SAMARINDADPRD Kota Samarinda melalui Panitia Khusus (Pansus) LKPJ Kepala Daerah mulai menyoroti indikator pembangunan sumber daya manusia (SDM) dalam proses verifikasi Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025.

Wakil Ketua Pansus LKPJ, Abdul Rohim, menyebutkan bahwa sejumlah indikator strategis seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM), angka harapan hidup, rata-rata lama sekolah, hingga sektor ketenagakerjaan menjadi fokus utama dalam pendalaman.

“Ini terkait dengan SDM, jadi pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan. Kita ingin memastikan apakah angka-angka yang disampaikan itu benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan,” ujarnya, Kamis (16/4/2026).

Dalam laporan LKPJ, lanjutnya, capaian IPM Kota Samarinda disebut cukup tinggi, bahkan melampaui rata-rata nasional. Namun demikian, Pansus tidak serta-merta menerima angka tersebut tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut.

Pihaknya melakukan cross check dengan OPD terkait, khususnya di sektor pendidikan, kesehatan, dan tenaga kerja, guna memastikan apakah program-program yang dijalankan benar-benar menyentuh peningkatan kualitas layanan.

“Di pendidikan kita lihat programnya, apakah benar menyentuh kualitas. Di kesehatan juga begitu, apakah ada peningkatan layanan. Di ketenagakerjaan, kita dalami apakah penurunan angka pengangguran itu karena terserap pasar kerja atau justru bergeser ke sektor informal,” jelasnya.

Menurut Abdul Rohim, hal ini penting untuk menghindari kesalahan dalam membaca capaian. Ia mengingatkan agar tidak terjebak pada angka-angka tinggi tanpa memahami substansi di baliknya.

“Jangan sampai kita merasa puas dengan angka. Padahal ketika didalami, ternyata masih ada hal-hal yang perlu diperbaiki,” tegasnya.

Selain itu, Pansus juga mencermati tren peningkatan indikator SDM yang dinilai relatif kecil dari tahun ke tahun. Meski secara capaian target tergolong tinggi, namun laju peningkatannya dinilai belum signifikan.

“Kalau kita lihat dari 2023, 2024 sampai 2025, peningkatannya itu kecil. Ini yang akan kita dalami lagi, apa penyebabnya,” ungkapnya.

Dalam proses ini, Pansus tidak hanya membandingkan antara target dan realisasi dalam RPJMD, tetapi juga melakukan studi komparasi dengan daerah lain yang memiliki kapasitas fiskal berbeda.

Menurutnya, hal tersebut penting untuk mengukur efektivitas kebijakan, mengingat Samarinda memiliki kemampuan anggaran yang cukup besar.

“Kapasitas fiskal kita cukup baik, APBD masih di kisaran Rp5 triliun. Tapi kalau ada daerah dengan APBD lebih kecil bisa mencapai hasil yang sama atau lebih baik, itu tentu jadi pertanyaan,” katanya.

Abdul Rohim juga menyinggung bahwa beberapa indikator dalam LKPJ, seperti kepuasan layanan, kerap diukur berdasarkan survei persepsi. Hal ini dinilai perlu dikaji lebih dalam karena belum tentu sepenuhnya menggambarkan kondisi riil di lapangan.

“Kalau berbasis persepsi, bisa saja hasilnya tinggi. Tapi belum tentu itu merepresentasikan kondisi sebenarnya,” ujarnya.

Meski telah menemukan sejumlah catatan awal, Pansus LKPJ menegaskan bahwa seluruh proses masih berada pada tahap verifikasi dan pendalaman. Kesimpulan akhir baru akan dirumuskan setelah seluruh rangkaian pembahasan, termasuk verifikasi lapangan, selesai dilakukan.

“Nanti di akhir masa kerja pansus baru kita simpulkan, apakah angka-angka ini benar-benar mencerminkan keberhasilan, bukan hanya di atas kertas tapi juga berdampak nyata bagi masyarakat,” tutupnya. (adv)

Penulis: Hairil Riswan