Penguatan Pangan Lokal Bisa Kurangi Ketergantungan Pasokan Luar Daerah

Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda, Kamaruddin.

SAMARINDA - Kemandirian pangan Kota Samarinda masih menghadapi tantangan besar. Di tengah kebutuhan masyarakat yang terus berjalan, sebagian komoditas pangan yang beredar di pasar Samarinda masih bergantung pasokan dari luar Kalimantan Timur.

Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda, Kamaruddin, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan perlu penguatan produksi pangan lokal. Samarinda memiliki lahan yang dapat dikembangkan, tetapi kapasitas produksi yang tersedia belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.

“Kalau melihat kondisi sekarang, kita memang masih banyak bergantung pada pasokan dari luar. Beras, bawang merah, bawang putih dan beberapa kebutuhan pangan lainnya masih didatangkan dari daerah lain,” kata Kamaruddin di Kantor DPRD Samarinda, Selasa (6/10/2026)

Ketergantungan itu juga tercermin dari neraca pangan Kalimantan Timur 2026. Data pemerintah provinsi memproyeksikan produksi beras Kaltim sekitar 173.491 ton. Sementara kebutuhan tahunan mencapai sekitar 400.695 ton. Artinya, produksi daerah masih jauh di bawah kebutuhan sehingga pasokan dari luar daerah tetap dibutuhkan.

Kondisi serupa terlihat dalam distribusi beras. Pemerintah Provinsi Kaltim pada September 2026 menyebut stok Bulog tetap aman, tetapi sebagian pasokan beras untuk Kaltim masih didatangkan dari Jawa dan Sulawesi. Hal ini menunjukkan persoalan ketahanan pangan bukan semata soal ketersediaan stok, melainkan juga kemampuan daerah menghasilkan pangan sendiri.

“Yang kita dorong bukan berarti Samarinda harus langsung memenuhi seluruh kebutuhan pangannya sendiri. Tetapi setidaknya produksi lokal harus terus ditingkatkan supaya ketergantungan terhadap daerah lain bisa dikurangi,” ujar Kamaruddin.

Menurut dia, pengembangan pertanian lokal dapat diarahkan berdasarkan karakteristik komoditas. Tidak seluruh kebutuhan pangan harus diproduksi di Samarinda. Tetapi, komoditas yang memungkinkan dibudidayakan di dalam kota perlu diperkuat agar memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjadi sumber pasokan bagi masyarakat.

Ia mencontohkan sejumlah sayuran yang relatif memungkinkan dikembangkan petani lokal. Misalnya, kangkung dan sawi. Sayuran itu memiliki peluang terus diperkuat,  karena produksinya dapat dilakukan pada skala lebih fleksibel dibandingkan komoditas pangan yang membutuhkan lahan luas.

“Untuk sayur-mayur tertentu sebenarnya kita punya peluang. Kangkung, sawi dan beberapa komoditas lainnya bisa dikembangkan. Jadi jangan semua kebutuhan kita datangkan dari luar kalau sebagian sebenarnya bisa diproduksi sendiri,” jelasnya.

Kamaruddin menilai penguatan produksi lokal harus dibarengi dengan perlindungan lahan, dukungan irigasi dan kemudahan masyarakat yang ingin mengembangkan usaha pertanian. Dengan begitu, lahan yang selama ini tidak produktif dapat diarahkan menjadi bagian dari rantai pasok pangan lokal.

“Intinya kita harus mulai mengurangi ketergantungan. Samarinda mungkin belum bisa mandiri untuk beras, tetapi untuk komoditas tertentu kita masih punya ruang untuk memenuhi kebutuhan dari produksi masyarakat sendiri,” pungkasnya. (adv/hr)

Penulis: Hairil Riswan