TANJUNG REDEB - Efisiensi anggaran yang memaksa pemangkasan anggaran hingga ke tingkat bawah, menuntut kampung bisa berinovasi mencari sumber pendapatan bagi kampungnya masing-masing. Hal ini juga ditegaskan Sekretaris Daerah (Sekda) Berau Muhammad Said saat membuka acara penguatan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) dan peningkatan SDM Berau, Kamis (16/7/2026) di SM Tower.
"BUMK itu sangat
penting untuk mendapatkan hasil PAK (Pendapatan Asli Kampung) untuk membangun,
untuk membantu APBK-nya (Anggaran Pendapatan dan Belanja Kampung),"
tegasnya.
Saat ini, kata dia, BUMK
yang produktif di Berau kurang lebih 20 dari 100 kampung. Artinya persentasinya
mungkin sekitar 20 persen saja dari seluruh kampung.
"Makanya, hari ini
diadakan kegiatan kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas
Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) bersama Universitas Muhammadiyah.
Temanya terkait dengan bagaimana memberdayakan BUMK," tambahnya.
Dia menyebut mungkin
selama ini banyak kampung-kampung yang sudah mengalokasikan anggaran khusus
untuk BUMK. Namun, sampai saat ini belum bisa menghasilkan.
"Saya yakin 80
kampung yang belum berkontribusi itu bisa jadi mungkin selama ini sudah diberi
anggaran tapi belum menghasilkan. Nah, ini juga mudah-mudahan dengan kegiatan
semacam ini memberikan pemahaman kepada kampung-kampung agar lebih maksimal
lagi di tengah efisiensi anggaran," harapnya.
Dia mengatakan, pembagian
Alokasi Dana Kampung (ADK) pasti tiap tahun akan menurun. Bahkan, penurunannya
luar biasa. "Kalau di tahun 2025 mereka masih bisa mendapatkan Rp3 -
Rp4 miliar per kampung, ya sesuai dengan proporsinya. Tahun ini kan mereka
cuman dapat rata-rata sekitar Rp1 - Rp1,5 miliar. Nah, tahun depan di 2027 itu
kisarannya rata-rata paling di bawah Rp1 miliar per kampung. Artinya kalau
tidak diantisipasi dengan memanfaatkan BUMK-nya, ya kita khawatir mereka tidak
mampu lagi untuk membiayai," pungkasnya. (mel/nk/ADV)

