Ketimpangan Daya Tampung Jadi Sorotan dalam Evaluasi SPMB Samarinda

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Novan Syahronny Pasie.

SAMARINDA – Persoalan penerimaan murid baru di Kota Samarinda tidak hanya berkaitan dengan mekanisme pendaftaran. Tetapi juga menyangkut kesesuaian antara jumlah calon peserta didik dengan kapasitas sekolah tersedia. Ketimpangan daya tampung sekolah harus menjadi persoalan yang diberi perhatian lebih.

Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Novan Syahronny Pasie, mengatakan kondisi ketimpangan daya tampungterlihat di sejumlah wilayah yang memiliki tingkat persaingan tinggi untuk mendapatkan bangku sekolah negeri. Salah satunya berada di kawasan Samarinda Ulu.

“Di beberapa wilayah, terutama Samarinda Ulu, kita melihat persoalan daya tampung ini setiap tahun masih menjadi tantangan. Masyarakat yang rumahnya relatif dekat dengan sekolah belum tentu bisa diterima karena jumlah bangkunya memang terbatas,” kata Novan, Sabtu (3/10/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi bagian dari evaluasi pemerintah ketika menyusun kebijakan penerimaan murid untuk tahun berikutnya. Sebab, persoalan daya tampung tidak dapat sepenuhnya diselesaikan hanya melalui perubahan teknis dalam proses pendaftaran.

Novan menilai pemerintah perlu memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai persebaran peserta didik dan kapasitas sekolah di setiap wilayah. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk melihat kawasan yang mengalami tekanan daya tampung paling tinggi.

“Kalau jumlah calon murid lebih banyak daripada kapasitas sekolah, tentu akan terjadi persaingan. Karena itu, pemerintah perlu melihat peta daya tampungnya secara menyeluruh,” ujarnya.

Ia menyebut kondisi tersebut juga berkaitan dengan penerapan sistem domisili. Ketika sekolah tertentu berada di kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi, sementara jumlah ruang belajar terbatas, warga yang tinggal di sekitar sekolah tetap berpotensi tidak mendapatkan tempat.

Menurut Novan, pemerintah perlu mengevaluasi pola tersebut agar kebijakan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tidak berhenti pada pengaturan proses seleksi. Dalam jangka panjang, persoalan kapasitas sekolah juga harus menjadi perhatian dalam perencanaan pendidikan daerah.

“Jangan sampai persoalan yang sama terus terjadi setiap tahun. Kalau memang wilayah tertentu kekurangan daya tampung, itu harus masuk dalam evaluasi dan perencanaan pendidikan,” jelasnya.

Novan berharap perhatian tentang fase SPMB tidak hanya berputar di pembahasan siapa yang diterima dan siapa tidak diterima. Namun juga melihat persoalan yang berada di balik keterbatasan tersebut.

“Kita ingin akses pendidikan ini semakin merata. Jadi persoalan daya tampung harus dibaca sebagai bagian dari kebutuhan pendidikan daerah dan dicari solusinya secara bertahap,” pungkas Novan. (adv/hr)

Penulis: Hairil Riswan