Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda, Arif Kurniawan.SAMARINDA - Keterbatasan anggaran daerah menuntut pemerintah lebih cermat dalam menyusun belanja pembangunan. Namun, di tengah kebutuhan melakukan efisiensi, keberlangsungan pelayanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan dinilai harus tetap mendapat perhatian, agar masyarakat tidak menanggung dampak dari menyempitnya kemampuan keuangan daerah.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Samarinda,
Arif Kurniawan, menilai kebijakan efisiensi perlu disertai pertimbangan matang.
Terutama terhadap program yang menyangkut kebutuhan mendasar masyarakat. Penyesuaian
anggaran semestinya tidak mengurangi kualitas layanan yang menjadi fondasi
kesejahteraan warga.
“Pendidikan dan kesehatan merupakan kebutuhan
mendasar yang harus dijaga keberlangsungannya. Dalam kondisi anggaran terbatas,
pemerintah memang perlu melakukan penyesuaian, tetapi jangan sampai masyarakat
justru kesulitan mendapatkan pelayanan yang layak,” ujar Arif Kurniawan di
Kantor DPRD Samarinda, Jumat (9/10/2026).
Ia berpandangan, pembangunan daerah tidak
cukup hanya berorientasi pada penyediaan infrastruktur fisik. Kualitas sumber
daya manusia juga menjadi bagian penting yang menentukan kemajuan sebuah kota
dalam jangka panjang.
“Misalnya di sektor pendidikan, pemerintah
perlu memastikan kegiatan belajar mengajar didukung fasilitas yang memadai dan
akses yang dapat dijangkau masyarakat. Di bidang kesehatan, ketersediaan
layanan yang mudah diakses menjadi kebutuhan yang berkaitan langsung dengan
kualitas hidup warga,” jelasnya.
Menurut Arif, kedua sektor tersebut memiliki
dampak berkelanjutan. Kebijakan yang tepat dalam menjaga kualitas pendidikan
akan mendukung lahirnya generasi lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Begitu pula layanan kesehatan yang baik, yang berperan menjaga produktivitas
masyarakat.
Karena itu, ia mengingatkan agar penentuan
belanja daerah tidak hanya didasarkan pada pertimbangan jangka pendek.
Pemerintah perlu melihat konsekuensi dari setiap keputusan anggaran, termasuk
apabila terdapat program pelayanan dasar yang dikurangi atau ditunda
pelaksanaannya.
“Jangan hanya melihat berapa anggaran yang
bisa dihemat hari ini, tetapi pertimbangkan juga dampaknya bagi masyarakat ke
depan. Penghematan harus dilakukan secara terukur, bukan dengan mengorbankan
kebutuhan yang menyangkut kualitas hidup warga,” tegasnya.
Arif menambahkan, upaya menjaga pendidikan
dan kesehatan tidak berarti pemerintah mengabaikan kebutuhan pembangunan
lainnya. Penataan anggaran tetap diperlukan agar berbagai program dapat
berjalan sesuai kemampuan keuangan daerah. “Proses tersebut harus disertai
pemetaan kebutuhan dan evaluasi terhadap manfaat setiap kegiatan,” katanya.
Ia juga menilai koordinasi antara perangkat
daerah penting untuk memastikan anggaran yang tersedia digunakan secara
efektif. Perencanaan yang matang dapat membantu pemerintah menghindari kegiatan
yang kurang mendesak sekaligus menjaga program pelayanan masyarakat tetap
berjalan.
Dalam pandangannya, keberhasilan pemerintah
mengelola tekanan fiskal tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghematan yang
dicapai. Kemampuan mempertahankan layanan publik yang berkualitas di tengah
keterbatasan juga menjadi ukuran penting dari ketepatan kebijakan anggaran.
“Pembangunan pada akhirnya harus kembali
kepada kepentingan masyarakat. Kita ingin Samarinda terus berkembang, tetapi
peningkatan pembangunan itu harus berjalan beriringan dengan terjaganya
pendidikan, kesehatan, dan pelayanan dasar yang dibutuhkan warga,” pungkas Arif
Kurniawan. (adv/hr)
Penulis:
Hairil Riswan