DPRD Samarinda Siapkan Forum Lanjutan Untuk Evaluasi Pasar Pagi

Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi.

SAMARINDA – Pembenahan Pasar Pagi Samarinda mulai memasuki tahap pemetaan masalah. Pasca pembahasan internal bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pedagang, DPRD Kota Samarinda disebut akan membawa persoalan pasar pagi dalam pembahasan lebih lanjut agar setiap masalah memiliki tindak lanjut yang jelas.

Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengatakan pihaknya tidak ingin persoalan Pasar Pagi hanya berhenti dalam bentuk keluhan. Inventarisasi diperlukan agar pembahasan berikutnya dapat menentukan masalah mana yang harus ditangani terlebih dahulu. “Kita sudah inventarisir persoalannya. Sekarang tinggal bagaimana kita cari jalan keluarnya,” kata Iswandi, Sabtu (3/10/2026).

Dalam RDP Komisi II pada September 2026, sedikitnya ada 14 persoalan tertulis disampaikan untuk ditindaklanjuti, selain sejumlah masalah lain yang muncul langsung dalam pembahasan bersama pedagang dan OPD. DPRD juga menyatakan akan kembali mengumpulkan instansi terkait untuk menelaah persoalan tersebut secara lebih rinci.

Bagi Iswandi, pola tersebut penting karena persoalan Pasar Pagi tidak berdiri pada satu aspek. Ada masalah penataan kios, fasilitas pendukung, komunikasi dengan pedagang, akses masyarakat hingga bagaimana aktivitas perdagangan dapat kembali bergerak.

Karena itu, DPRD Samarinda berencana memperluas pembahasan melalui Focus Group Discussion (FGD). Akademisi, komunitas, praktisi dan pihak lain akan dilibatkan untuk memberikan pandangan mengenai model Pasar Pagi yang dapat dikembangkan. “Jangan hanya kita yang berpikir. Kita perlu dengar akademisi, praktisi, komunitas dan orang-orang yang punya pengalaman menghidupkan kawasan perdagangan,” ujarnya.

Forum tersebut diharapkan menghasilkan gagasan lebih konkret. DPRD tidak ingin setiap persoalan diselesaikan secara parsial, apabila ternyata akar masalahnya berkaitan dengan konsep besar pengelolaan pasar.

Iswandi menyebut kondisi fisik Pasar Pagi sebenarnya sudah mengalami perubahan besar. Namun, keberadaan gedung yang lebih representatif tetap harus diikuti dengan aktivitas perdagangan yang berjalan. “Secara estetik memang sudah oke. Tapi yang harus kita lihat sekarang, apakah fungsi ekonominya sudah berjalan,” tegasnya.

Ia juga menilai komunikasi antara pemerintah dan pedagang menjadi faktor penting. Pembahasan terbaru mengenai penataan kios menunjukkan masih ada kebutuhan untuk mempertemukan kepentingan pedagang yang berbeda sebelum perubahan diterapkan.

“DPRD ingin proses evaluasi dilakukan bertahap sehingga keputusan yang diambil tidak menimbulkan persoalan baru. Setiap masukan akan dikaji sebelum diterjemahkan menjadi perubahan kebijakan,” ungkap dia.

Dengan cara tersebut, Iswandi berharap pembahasan Pasar Pagi mulai bergeser dari persoalan masa lalu menuju langkah yang dapat dilakukan sekarang. “Kita jangan terus bicara ke belakang. Kita bicara bagaimana Pasar Pagi ke depan,” pungkasnya. (adv/hr)

Penulis: Hairil Riswan