Wabup Berau Akui Logistik dan Infrastruktur Sampah di Pesisir Jadi Tantangan

TANJUNG REDEB — Kabupaten Berau dianugerahi keindahan alam sangat luar biasa. Ragam potensinya terbentang luas. Mulai dari kawasan hulu, kekayaan sejarah dan budaya di wilayah tengah, hingga bentangan surga wisata bahari di wilayah pesisir serta kepulauan. Namun, di balik anugerah pesona alam tersebut, tersimpan tantangan besar yang mendesak untuk segera ditangani, yakni pengelolaan sampah.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, menegaskan, penanganan sampah di kawasan destinasi wisata dan pulau-pulau kecil, memiliki tingkat kerumitan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah daratan perkotaan. Persoalan persampahan di wilayah pesisir dan kepulauan dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur pendukung, minimnya sumber daya manusia (SDM), serta tingginya rantai kendali logistik untuk mengangkut residu sampah menuju daratan utama.

"Mengelola sampah di pulau kecil jauh lebih memiliki tantangan dibanding di daratan perkotaan. Kita dihadapkan dengan keterbatasan lahan, keterbatasan SDM, hingga biaya logistik pengangkutan residu sampah dari pusat sampah di kepulauan menuju TPA di Tanjung Redeb yang tentu tidak murah, cukup mahal," ujar Gamalis dalam sebuah diskusi pengolahan sampah pada penutupan pameran 73 Tahun Berau dalam Gambar di Story Mount, Sabtu (31/10/2026) sore.

Ia mencontohkan, untuk wilayah daratan, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bujangga di Tanjung Redeb yang memiliki luas sekitar 11,5 hektar. Kini mulai terancam over capacity, akibat terus meningkatnya timbunan sampah harian yang diperkirakan mencapai 100 ton per hari. 

“Kondisi ini akan semakin berat jika residu sampah dari pulau-pulau wisata seperti Pulau Derawan maupun akses penyeberangan di Tanjung Batu, harus terus diangkut ke daratan tanpa adanya sistem pemilahan yang efektif di tingkat lokal,” jelasnya.

Gamalis mengingatkan, jika persoalan persampahan ini tidak dikelola dengan pintar dan cermat, keindahan alam yang selama ini menjadi kebanggaan Bumi Batiwakkal, justru bisa berbalik menjadi ancaman bagi sektor pariwisata.

"Berau ini dianugerahi keindahan alam yang luar biasa. Tapi keindahan itu pula yang kemudian, kalau kita tidak pintar-pintar memijaknya, tidak akan bertahan lama. Ketika kita mengandalkan pariwisata, sampah yang tidak tertangani dengan baik akan merusak ekosistem dan mengancam citra wisata kita," tegasnya.

Selain tantangan geografis di pesisir, Gamalis menyoroti ancaman sampah kiriman, yang kerap masuk ke saluran muara dan perairan wisata, akibat minimnya kesadaran serta kurangnya infrastruktur penjaring sampah di aliran sungai. Seperti tumpukan sampah, yang terbawa arus muara melewati jembatan di kawasan wisata.

"Ini menjadi alarm bagi kita semua. Kalau pemerintah daerah, dinas terkait, dan pengelola wisata tidak siap menjaring dan mengantisipasi ini, sampah-sampah kiriman dari luar akan terus masuk ke muara dan merusak kawasan wisata kita," ungkapnya.

Karena itu, Pemkab Berau mendorong perubahan pola pikir (mindset) masyarakat dari pola konvensional kumpul, angkut, buang menjadi pengelolaan sampah berbasis pemilahan dan ekonomi sirkular. 

Dengan pengelolaan yang tepat di tingkat tapak, volume sampah yang diangkut keluar dari pulau-pulau wisata dapat ditekan secara signifikan, sekaligus menjaga ekosistem bahari Berau tetap bersih dan berkelanjutan. (mel/nk/adv)