Anggota DPRD Samarinda Ingatkan Ancaman Karhutla Bawah Tanah

SAMARINDA – Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Andriansyah, mengingatkan kompleksitas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Terutama akibat potensi api yang bertahan di bawah permukaan tanah. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman tidak cukup hanya fokus ke api yang terlihat di permukaan.

Menurut Andriansyah, karakteristik lahan gambut dan keberadaan batu bara menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam penanganan kebakaran. Pada kondisi tertentu, bara api dapat bertahan di lapisan bawah tanah meskipun bagian permukaan telah terlihat padam.

“Kita sama-sama tahu kalau Kalimantan ini memiliki kandungan batu bara cukup besar, begitu juga dengan lahan gambut. Artinya, walau lahan di atasnya telah dipadamkan, tetapi kebakaran di bawah tanah masih bisa terus terjadi,” ujarnya saat ditemui di Kantor DPRD Samarinda, Kamis (15/10/2026).

Andriansyah menilai, Kondisi tersebut menjadi tantangan. Sebab, api yang tidak lagi terlihat belum tentu menandakan kebakaran sepenuhnya berakhir. Apabila bara masih bertahan di bawah permukaan, api berpotensi kembali muncul dan memperpanjang proses penanganan. "Pemadaman perlu disertai pemeriksaan serta pemantauan kondisi lahan untuk memastikan tidak ada titik api yang tersisa," jelasnya.

Ia menyebut karakteristik kebakaran di Kalimantan harus menjadi pertimbangan menyusun strategi penanganan. Personel di lapangan perlu memahami teknik pemadaman sesuai kondisi lahan, agar upaya yang dilakukan tidak berhenti pada pemadaman api di permukaan.

“Karhutla ini tidak bisa disamakan dengan kebakaran biasa. Ada kondisi tertentu yang membutuhkan penanganan lebih spesifik, sehingga pengalaman di lapangan dan pelatihan personel harus menjadi bagian dari evaluasi,” katanya.

Menurut Andriansyah, penanganan karhutla membutuhkan kesiapan jangka panjang. Karena ancamannya berulang setiap musim kemarau. Dengan pendekatan yang sesuai karakteristik lahan, pemerintah diharapkan dapat mengurangi risiko kebakaran berulang sekaligus menekan dampak asap terhadap masyarakat. "Sampai saat ini sudah banyak sekali lahan kita yang terbakar, salah satunya memang karena struktur tanah gambut itu masih menyimpan bara di lapisan bawahnya," tutup Andriansyah. (adv/hr)

Penulis: Hairil Riswan