Anggota Dewan Minta Pemkot Samarinda Kendalikan Pembukaan Lahan

Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Abdul Rohim.

SAMARINDA – Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Abdul Rohim, mendorong pemerintah kota mempertimbangkan moratorium pembukaan dan pemotongan lahan serta alih fungsi daerah resapan air sebagai langkah mengurangi risiko banjir.

Menurut Abdul Rohim, penanganan banjir tidak bisa hanya berfokus pada pembenahan drainase. Pengendalian pemanfaatan lahan juga diperlukan untuk mencegah berkurangnya kawasan yang berfungsi menyerap air hujan. “Pemerintah mesti mulai melakukan moratorium terhadap pembukaan atau pemotongan lahan tadi dan alih fungsi daerah resapan air,” kata Abdul Rohim di Gedung DPRD Samarinda, Selasa (13/10/2026).

Ia menjelaskan, perubahan bentang alam di kawasan hulu berpotensi meningkatkan limpasan air menuju wilayah yang lebih rendah. Ketika lahan resapan beralih fungsi, air hujan yang seharusnya terserap tanah dapat mengalir ke permukiman dan menambah beban saluran drainase.

Karena itu, Abdul Rohim meminta pemerintah memasukkan pengendalian tata ruang sebagai bagian dari upaya pencegahan banjir. Evaluasi terhadap aktivitas pembukaan lahan perlu dilakukan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan kemampuan infrastruktur menampung aliran air. “Kemampuan sistem drainase menampung limpasan air juga jadi hal yang tidak boleh luput dari perhatian,” jelasnya.

Selain pengendalian lahan, ia menilai pembenahan saluran air tetap harus menjadi prioritas. Komisi III DPRD Samarinda sebelumnya menemukan sejumlah persoalan drainase. Mulai dari pendangkalan, tumpukan sampah hingga perbedaan elevasi yang menghambat aliran menuju sungai. Persoalan tersebut perlu ditangani secara menyeluruh, agar kapasitas saluran dapat berfungsi optimal, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi.

“Pemerintah perlu memastikan jaringan drainase terhubung dengan saluran pembuangan akhir. Tanpa konektivitas yang memadai, perbaikan pada satu titik belum tentu mampu mengurangi genangan apabila hambatan masih terjadi di bagian saluran lainnya,” papar Rohim.

Ia mendorong pemerintah memanfaatkan musim kemarau untuk mempercepat pengerukan, pembersihan saluran, serta pemetaan titik rawan genangan. “Langkah ini dinilai penting agar penanganan dapat dilakukan sebelum curah hujan meningkat,” katanya.

Abdul Rohom berharap pengendalian pembukaan lahan dan perbaikan drainase berjalan beriringan dengan penanganan dari hulu hingga hilir. "Harapannya resiko banjir dapat ditekan sekaligus mengurangi potensi genangan di kawasan permukiman," pungkasnya. (adv/hr)

Penulis: Hairil Riswan