Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti.SAMARINDA - Pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB) di Samarinda masih berhadapan dengan tantangan anggaran di tengah banyaknya kebutuhan pembangunan daerah. Pemerintah harus membagi ruang fiskal untuk berbagai sektor. Sementara pelayanan pengendalian penduduk dan pembangunan keluarga tetap membutuhkan dukungan pembiayaan.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD
Samarinda, Sri Puji Astuti, mengatakan kondisi tersebut membuat program KB
harus ditempatkan dalam skala prioritas bersama kebutuhan daerah lainnya. Keterbatasan
anggaran tidak berarti program dapat diabaikan, tetapi diperlukan penyesuaian
agar pelayanan tetap berjalan.
“Anggaran kita terbatas,
sementara kebutuhan pembangunan sangat banyak. Program KB juga membutuhkan
dukungan, tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah dan
prioritas yang sudah ditetapkan,” kata Sri Puji Astuti di Gedung DPRD Samarinda,
Rabu (7/10/2026).
Ia menjelaskan, program KB
gratis yang berjalan di Samarinda merupakan program pemerintah pusat melalui
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Pemerintah daerah
melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) berperan
sebagai pelaksana pelayanan di tingkat daerah.
Dukungan dari pusat tersebut
antara lain berkaitan dengan penyediaan alat kontrasepsi serta insentif
pelayanan. Namun, kebutuhan di tingkat daerah tetap membutuhkan dukungan
penganggaran agar pelaksanaan program dan sosialisasi dapat menjangkau
masyarakat.
“Program KB gratis ini
sumber utamanya dari pusat melalui BKKBN. Dinas di daerah menjalankan
pelayanan. Tetapi tentu ada kebutuhan daerah yang tetap harus kita perhatikan,”
ujarnya.
Sri Puji menyebut anggaran Dinas
P2KB Samarinda berada di kisaran Rp10 miliar. Di sisi lain, dukungan anggaran
dari pemerintah pusat juga belum seluruhnya diterima sehingga pengelolaan
program harus dilakukan secara cermat.
“Kondisi tersebut membuat
program KB harus berjalan berdampingan dengan sejumlah kebutuhan lain. Di
sektor kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial hingga pembangunan infrastruktur,
pemerintah daerah juga menghadapi kebutuhan pembiayaan yang sama-sama mendesak,”
kata dia.
Menurut Sri Puji, kondisi
itu menjadi alasan DPRD perlu melihat program KB tidak hanya dari sisi besaran
anggaran, tetapi juga manfaat jangka panjangnya. Pengendalian penduduk dan
pembangunan keluarga berkaitan dengan kebutuhan pelayanan publik di masa
mendatang.
“Kalau kita bicara
kependudukan, dampaknya panjang. Hari ini kita melakukan pelayanan KB, tetapi
manfaatnya akan dirasakan dalam perencanaan keluarga dan pembangunan daerah ke
depan. Karena itu program ini tetap perlu diperhatikan,” jelasnya.
Ia mengatakan DPRD Samarinda
sebenarnya memiliki ruang membantu mendukung program tersebut melalui
pokok-pokok pikiran anggota dewan. Namun, mekanisme penganggaran tetap harus
mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah serta daftar prioritas pembangunan.
Sri Puji Astuti mencontohkan
kebutuhan rehabilitasi sekolah yang juga masih besar. Usulan perbaikan sarana
pendidikan datang dari berbagai wilayah sehingga membutuhkan alokasi anggaran
yang tidak sedikit. Dalam kondisi seperti itu, program KB juga harus
berkompetisi dengan berbagai kebutuhan pelayanan dasar lainnya.
“Prioritas kita banyak. Ada
sekolah yang harus diperbaiki, ada kebutuhan kesehatan, ada program sosial,
termasuk KB. Semuanya penting, tetapi kemampuan anggaran kita tetap harus
menjadi pertimbangan,” tuturnya.
Karena itu, Sri Puji
mendorong pemerintah daerah dan DPRD menyusun pembiayaan program secara terukur
dengan tetap memanfaatkan dukungan dari pemerintah pusat. Dukungan pusat perlu
dimaksimalkan agar beban pembiayaan yang harus ditanggung daerah tidak semakin
berat.
“Kalau ada program dari
pusat yang bisa kita manfaatkan, tentu harus dimaksimalkan. Pemerintah daerah
tinggal memastikan pelaksanaannya di lapangan berjalan dan masyarakat
mendapatkan pelayanan,” pungkas Sri Puji Astuti. (adv/hr)
Penulis: Hairil Riswan