Dalam Dua Tahun, Berau Kejar Status Geopark Global UNESCO

TANJUNG REDEB – Usai menjalani verifikasi lapangan oleh tim verifikator pusat, Geopark Sangkulirang Mangkalihat yang terbentang sepanjang Kutim hingga Berau ini, disiapkan untuk bisa mencapai status yang diakui nasional hingga dunia.

Setelah ditetapkan menjadi Geopark Nasional nantinya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menargetkan Geopark Sangkulirang Mangkalihat dapat mencapai status Geopark Global UNESCO dalam dua tahun ke depan.

Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Berau Muhammad Said, mengatakan, perjalanan menuju pengakuan geopark telah melalui proses yang cukup panjang. Geopark Sangkulirang Mangkalihat sendiri mulai dibentuk berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Nomor 67 Tahun 2012.

“Alhamdulillah Geopark ini kan perjalanannya cukup panjang, satu tahun setengah. Jadi Geopark itu awalnya dibentuk melalui SK Gubernur Nomor 67 Tahun 2012,” ujarnya, ditemui pada Kamis (16/7/2026).

Dia menjelaskan, Badan Pengelola Geopark Sangkulirang Mangkalihat melibatkan sejumlah pihak yakni Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kabupaten Berau, dan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur. Kawasan geopark tersebut memang berada di dua wilayah administrasi kabupaten.

“Dari sisi potensi kawasan, Geopark Sangkulirang Mangkalihat memiliki sejumlah geosite atau wilayah yang menjadi bagian dari kawasan geopark. Di Kutai Timur, terdapat 11 geosite, sementara di Berau terdapat 15 geosite,” jelasnya.

Adapun dokumen pengajuan Geopark Sangkulirang Mangkalihat telah disampaikan pada tahun sebelumnya. Saat ini, prosesnya telah memasuki tahap verifikasi dan pemerintah daerah optimistis kawasan tersebut dapat memperoleh status Geopark Nasional pada akhir tahun ini.

Setelah mencapai status nasional, pemerintah daerah memiliki target lebih besar, yakni membawa Geopark Sangkulirang Mangkalihat menjadi bagian dari Geopark Global UNESCO dalam waktu dua tahun mendatang.

"Untuk mencapai target tersebut, pentingnya kolaborasi seluruh perangkat daerah sangat berperan. Apalagi pemerintah daerah memiliki keterbatasan, terutama dari sisi anggaran serta fasilitas pendukung," tambahnya.

Selain dukungan kelembagaan, tantangan lain yang perlu diperkuat adalah pemahaman masyarakat dan perangkat daerah mengenai konsep geopark. Sosialisasi dinilai harus terus dilakukan agar seluruh pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya geopark bagi pembangunan daerah.

Ia berharap seluruh perangkat daerah hingga lingkungan sekolah dapat memahami keberadaan dan manfaat Geopark Sangkulirang Mangkalihat. “Jangan sampai misalnya ada kepala dinas, ada sekolah-sekolah yang nggak tahu apa sih Geopark itu,” tuturnya.

Pemkab Berau berharap penguatan pemahaman dan kolaborasi antarpihak dapat mempercepat terwujudnya target Geopark Sangkulirang Mangkalihat sebagai Geopark Global UNESCO.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan karakteristik geosite di Berau memiliki keunggulan yang berbeda dibandingkan Kutai Timur.

Jika Kutai Timur lebih dikenal dengan kawasan karst, pegunungan, dan gua, maka Berau memiliki kekuatan pada kawasan pesisir dan kepulauan yang telah berkembang sebagai destinasi wisata.

"Pengembangan ekonomi dan pariwisata geosite kita sudah jauh lebih berkembang. Karakter kita berada di pesisir dan kepulauan, sedangkan Kutim lebih banyak pegunungan dan kawasan karst," beber Yudha.

Diakunya, seluruh geosite tetap dinilai meskipun tidak semuanya dikunjungi langsung oleh tim. Penilaian dilakukan berdasarkan dokumen, indikator, hingga bukti pendukung yang telah disampaikan. Aspek yang dinilai meliputi upaya pelestarian kawasan, kegiatan penelitian dan pendidikan, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan, pemberdayaan ekonomi, promosi, hingga tata kelola organisasi Geopark. (mel/nk/ADV)