SAMARINDA – Transisi Samarinda menuju kota tanpa tambang dinilai membawa tantangan baru yang perlu diantisipasi secara serius oleh pemerintah daerah. Salah satu dampak yang menjadi perhatian adalah potensi bertambahnya jumlah pengangguran dari kalangan pekerja yang sebelumnya menggantungkan hidup pada sektor pertambangan.
Anggota
Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi, mengatakan perubahan arah
pembangunan kota harus dibarengi dengan langkah-langkah mitigasi untuk mencegah
munculnya persoalan sosial di tengah masyarakat.
Menurutnya,
berkurangnya aktivitas pertambangan dapat berdampak pada pekerja yang
kehilangan mata pencaharian apabila tidak segera mendapatkan alternatif
pekerjaan baru.
“Ketika
Samarinda mendeklarasikan diri sebagai kota tanpa tambang, tentu ada
konsekuensi yang harus dipikirkan bersama. Salah satunya bagaimana nasib para
pekerja yang sebelumnya bekerja di sektor tambang,” ujarnya, Rabu (17/6/2026).
Ismail
menilai pemerintah kota perlu menyiapkan strategi yang komprehensif agar proses
transisi tersebut tidak menimbulkan gejolak sosial di kemudian hari.
Ia
mengingatkan bahwa persoalan pengangguran dapat berimbas pada menurunnya
tingkat kesejahteraan masyarakat.
“Kalau
kemudian mereka tidak memiliki pekerjaan dan kebutuhan hidup tidak terpenuhi,
tentu akan muncul berbagai persoalan sosial yang tidak kita inginkan,” katanya.
Ia
menambahkan, kondisi tersebut berpotensi memicu meningkatnya angka kriminalitas
apabila tidak segera ditangani melalui kebijakan yang tepat sasaran.
Karena
itu, Ia mendorong pemerintah daerah untuk lebih aktif menghadirkan
program-program pemberdayaan masyarakat yang mampu membuka peluang ekonomi baru
bagi warga terdampak.
Ismail
menekankan bahwa keberhasilan Samarinda bertransformasi menjadi kota yang lebih
berkelanjutan harus diiringi dengan jaminan kesejahteraan bagi masyarakat yang
terdampak perubahan tersebut.
“Kita
berharap pemerintah bisa mengambil langkah cepat. Jangan sampai masyarakat yang
terdampak kehilangan pekerjaan justru menghadapi kesulitan ekonomi yang
berkepanjangan,” pungkasnya. (adv)
Penulis:
Hairil Riswan
