SAMARINDA — DPRD Kota Samarinda mulai mendorong pengembangan teknologi pirolisis sebagai salah satu solusi pengurangan sampah plastik di Kota Tepian. Program tersebut diarahkan untuk mengubah sampah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar minyak melalui proses pengolahan tertentu.
Anggota
Komisi III DPRD Kota Samarinda, Muhammad Andriansyah mengatakan gagasan itu
muncul setelah pihaknya melakukan studi banding ke Cimahi dan melihat langsung
praktik pengolahan sampah plastik menjadi minyak yang telah berjalan di
masyarakat.
“Selama
dua tahun ini kami memang konsen bagaimana sampah bisa punya nilai ekonomis.
Waktu studi banding ke Cimahi, kami melihat masyarakat di sana sudah bisa
mengelola sampah plastik menjadi minyak,” ujarnya, Sabtu (30/5/2026)
Ia
menjelaskan, jenis plastik yang digunakan bukan botol plastik biasa, melainkan
plastik low value seperti kantong kresek, plastik pembungkus, hingga sampah
plastik tipis yang selama ini banyak dibuang begitu saja di jalan maupun TPS.
“Justru
yang bisa jadi solar itu plastik-plastik low value. Kresek, plastik tipis,
bungkus-bungkus makanan. Kalau botol plastik beda lagi pengelolaannya,” katanya
Untuk
merealisasikan program tersebut, Aan sapaan akrabnya menyebut mulai menjajaki
kerja sama dengan sejumlah sekolah kejuruan dan perguruan tinggi. Salah satu
yang telah diajak berkomunikasi awal yakni SMK 15 Samarinda.
“Nanti
awal Juni insyaallah kami mulai pertemuan awal dengan SMK 15. Harapannya nanti
SMK lain, termasuk politeknik, juga ikut meriset bagaimana alat pirolisis ini
bekerja dan bagaimana membuatnya,” ucap Andriansyah.
Menurutnya,
keterlibatan sekolah kejuruan penting karena para siswa memang dipersiapkan
untuk langsung masuk ke dunia kerja. Ia berharap program tersebut nantinya
tidak hanya menjadi riset, tetapi benar-benar menghasilkan produk nyata yang
bisa dimanfaatkan masyarakat.
“Kalau
SMK kan memang diciptakan untuk dunia kerja. Jadi kami ingin mereka punya
produk nyata yang bisa dipakai masyarakat, bukan hanya konsep,” tegasnya.
Ia
menilai program pengolahan sampah berbasis pirolisis juga berpotensi membantu
menekan persoalan sampah di Samarinda sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi
masyarakat.
Selain
mengurangi volume sampah, Aan berujar hasil pengolahan plastik juga dinilai
bisa menjadi alternatif bahan bakar dengan biaya produksi lebih murah.
“Kalau
ini berjalan, dampaknya dua. Sampah berkurang dan ekonomi masyarakat bertambah.
Target kita Samarinda jadi kota yang lebih bersih juga bisa lebih cepat
tercapai,” pungkasnya. (adv)
