SAMARINDA — Ketergantungan generasi muda terhadap teknologi digital, termasuk penggunaan mesin pencari dan kecerdasan buatan atau AI, mulai menjadi perhatian DPRD Kota Samarinda. Kondisi itu dinilai berpotensi menurunkan kemampuan berpikir dan daya analisis anak-anak dalam proses belajar.
Anggota
Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar mengatakan perkembangan digitalisasi
memang memberi kemudahan dalam mengakses informasi. Namun di sisi lain,
kemudahan tersebut dikhawatirkan membuat siswa semakin malas berpikir secara
mandiri.
“Sekarang
anak-anak terbiasa buka Google dan AI. Semua serba instan. Akhirnya kemampuan
berpikir dan daya ingatnya berkurang,” ujar Anhar, Kamis (21/5/2026).
Ia
mencontohkan perubahan pola belajar yang menurutnya sangat berbeda dibanding
generasi sebelumnya. Jika dahulu pelajar terbiasa menghafal dan memahami materi
secara manual, kini sebagian besar bergantung pada perangkat digital.
“Kita
dulu kali satu sampai kali sepuluh itu di luar kepala. Sekarang coba tanya
anak-anak, belum tentu banyak yang hafal karena semuanya bergantung pada
digitalisasi,” katanya.
Anhar
juga menilai penggunaan layar digital dalam waktu panjang dapat mengurangi
fokus belajar siswa. Menurutnya, pembelajaran berbasis layar cenderung membuat
anak mudah terdistraksi dibanding membaca buku secara langsung.
“Kalau
membaca di layar itu cepat, tapi tidak fokus. Ada notifikasi, ada gangguan
lain. Beda dengan membaca buku yang membuat orang lebih tenang dan mendalam,”
jelasnya.
Ia
mengaku mulai memahami persoalan tersebut setelah berdiskusi dengan anaknya
yang sedang menempuh pendidikan di Jepang. Dari diskusi itu, Anhar melihat
sejumlah negara mulai kembali menata penggunaan teknologi dalam pendidikan agar
tidak berlebihan.
“Anak
saya cerita, di sana juga masih banyak menggunakan buku dan tulisan manual.
Tidak semuanya diserahkan ke digital,” ungkapnya.
Menurut
Anhar, teknologi tetap dibutuhkan dalam kehidupan modern, namun penggunaannya
harus proporsional dan tidak menghilangkan kemampuan dasar manusia dalam
berpikir maupun berinteraksi sosial.
Ia
menyinggung dampak sosial dari ketergantungan digital yang membuat interaksi
antarmanusia semakin berkurang. Kondisi itu, kata dia, terlihat dari semakin
minimnya komunikasi langsung dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekarang
semuanya serba digital. Orang belanja tidak ke pasar lagi, pesan makanan
tinggal lewat aplikasi. Interaksi sosialnya makin hilang,” ucapnya.
Anhar
berharap perkembangan teknologi tetap dibarengi penguatan literasi, budaya
membaca, dan pembentukan karakter anak di sekolah. Menurutnya, kemajuan
teknologi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan kemampuan berpikir kritis
dan nilai-nilai kemanusiaan. “Teknologi boleh maju, tapi jangan sampai
menghilangkan jati diri manusia itu sendiri,” tutupnya. (adv)
Penulis:
Hairil Riswan
