Dampak Pemotongan DBH Mulai Terasa di DPRD Samarinda

SAMARINDAImbas Pemangkasan Dana Bagi Hasil (DBH) belakangan ini turut memengaruhi berbagai aktivitas pemerintahan daerah Kota Samarinda, termasuk belanja operasional hingga kegiatan di lingkungan DPRD Kota Samarinda.

Wakil Ketua DPRD Kota Samarinda, Celni Pita Sari, mengatakan tekanan fiskal akibat pemotongan DBH kini menjadi perhatian serius karena berpotensi memengaruhi keberlanjutan sejumlah program daerah apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Menurutnya, besaran pemotongan DBH yang diterima Samarinda cukup signifikan. Bahkan, ia memperkirakan pengurangannya mencapai sekitar 40 persen dibanding sebelumnya. “Kalau tidak salah sekitar 40 persen kita kena pemotongan,” ujarnya, Senin (25/5/2026)

Ia menjelaskan, dampak pemotongan tersebut tidak hanya dirasakan pada satu sektor, tetapi mulai menyentuh berbagai kebutuhan operasional pemerintahan. Efisiensi anggaran pun kini dilakukan lebih ketat, termasuk pada kegiatan rapat, konsumsi, hingga perjalanan dinas.

“Kegiatan makan minum sudah berkurang, perjalanan dinas juga berkurang. Itu sangat signifikan sekali,” katanya.

Celni mengungkapkan, kondisi itu juga membuat DPRD Kota Samarinda lebih selektif dalam melakukan kegiatan luar daerah. Ia menyebut, saat ini DPRD Samarinda lebih sering melakukan perjalanan dinas ke Jakarta.

Selain membahas berbagai agenda pemerintahan, kunjungan tersebut Kata Celni turut dimanfaatkan untuk membicarakan persoalan DBH yang terus mengalami penyesuaian dari pusat.

“Untuk saat ini paling banyak kunjungan kerja atau konsultasi itu ke Jakarta, karena sekalian membahas DBH kita yang terus dipotong,” jelasnya.

Di tengah tekanan fiskal tersebut, DPRD menilai Samarinda masih cukup terbantu dengan peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Kenaikan PAD disebut menjadi penopang penting agar sejumlah program prioritas daerah tetap bisa berjalan. “Untungnya PAD kita naik, sehingga pokir kita tetap bisa berjalan dengan baik,” ungkap Celni.

Menurutnya, tanpa peningkatan PAD, dampak pemotongan DBH berpotensi lebih besar terhadap pelaksanaan program pembangunan maupun kegiatan yang berasal dari pokok-pokok pikiran DPRD.

Karena itu, DPRD mendorong Pemerintah Kota Samarinda terus memperkuat sektor-sektor penghasil PAD agar ketergantungan terhadap dana transfer pusat dapat perlahan dikurangi. Celni menilai kemampuan daerah dalam memperbesar pendapatan mandiri akan menjadi penentu stabilitas pembangunan di tengah kebijakan efisiensi anggaran nasional. “PAD ini akhirnya menjadi penutup untuk kebutuhan program-program kita di daerah,” pungkasnya. (adv)

Penulis: Hairil Riswan