Wacana Pilkada Dipilih DPRD Kembali Menguat, Legislator Singgung Potensi Redam Konflik Sosial

SAMARINDAWacana perubahan sistem pemilihan kepala daerah dari langsung oleh rakyat menjadi melalui DPRD yang sempat mencuat di tingkat nasional masih terus bergulir hingga saat ini. DPRD Kota Samarinda menyebut isu ini masih dalam tahap pembahasan dan belum ada keputusan final.

Ketua Komisi I DPRD Samarinda, Samri Shaputra, menyebut perbedaan pandangan di antara partai politik menjadi hal wajar dalam proses tersebut. "Setiap partai memiliki pertimbangan masing-masing dalam menentukan sikap, baik mendukung pemilihan langsung maupun melalui DPR," ujar Samri, Rabu (22/4/2025)

Samri menyebut, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah dampak sosial dari sistem pemilihan langsung yang selama ini berjalan. Ia menilai, polarisasi di masyarakat kerap muncul akibat perbedaan pilihan politik. “Sekarang kita lihat sendiri, masyarakat bisa terpecah hanya karena beda pilihan. Bahkan sampai ke lingkungan keluarga,” lanjutnya.

Fenomena tersebut, katanya, bukan hanya terjadi di level nasional, tetapi juga hingga ke tingkat akar rumput. Ia menilai kondisi ini perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Misalnya, konflik sosial akibat perbedaan pilihan politik bahkan bisa berdampak pada hubungan antarwarga, termasuk di lingkungan tempat tinggal.

“Jika pemilihan dilakukan melalui DPR, potensi konflik di masyarakat dapat diminimalisir, karena masyarakat tidak terlibat langsung dalam proses pemilihan. Kalau tidak memilih langsung, masyarakat tidak terbelah seperti sekarang,” katanya.

Namun, ia menegaskan bahwa wacana ini masih membutuhkan kajian mendalam, termasuk mempertimbangkan berbagai aspek demokrasi dan penerimaan publik. Karena itu, edukasi kepada masyarakat menjadi penting, agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menanggapi perubahan sistem yang mungkin terjadi. "Jadi kita masih menunggu titik terang juga, karena di Komisi I di daerah, tentunya menunggu putusan dan arahan pusat," pungkas Samri. (adv)

Penulis: Hairil Riswan