SAMARINDA – Wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD tidak hanya dikaitkan dengan aspek politik, tetapi juga efisiensi anggaran negara. DPRD Kota Samarinda menilai sistem tersebut berpotensi menghemat biaya pemilu dalam jumlah besar.
Ketua
Komisi I DPRD Samarinda, Samri Shaputra, menyebut pelaksanaan pemilihan
langsung membutuhkan biaya yang sangat besar, mulai dari pencetakan surat suara
hingga logistik lainnya.
Menurutnya,
jika kepala daerah dipilih melalui DPRD, jumlah kebutuhan logistik akan jauh
lebih kecil karena hanya melibatkan anggota legislatif. “Kalau di DPRD, misalnya
hanya 45 anggota, berarti hanya butuh puluhan kertas suara. Sangat jauh berbeda,”
jelasnya, Rabu (22/4/2026)
Ia
menilai, anggaran besar yang selama ini digunakan untuk pemilu bisa dialihkan
ke sektor pembangunan yang lebih langsung dirasakan masyarakat, seperti
infrastruktur dan pelayanan publik.
Selain
efisiensi, ia juga menyoroti aspek pengawasan. Jika kepala daerah dipilih oleh
DPRD, maka fungsi kontrol terhadap eksekutif akan lebih kuat. Karena, kepala
daerah memiliki hubungan langsung dengan DPR sebagai pihak yang memilihnya,
sehingga mekanisme evaluasi dinilai lebih efektif. “Pengawasannya bisa lebih
mudah, karena ada hubungan langsung antara DPRD dan kepala daerah,” ujarnya.
Namun,
ia juga mengakui bahwa sistem ini memiliki sisi negatif, terutama terkait
berkurangnya keterlibatan langsung masyarakat dalam memilih pemimpin. Namun, masyarakat tetap memiliki peran melalui
pemilihan anggota DPRD sebagai perwakilan yang diberi mandat untuk menentukan
kebijakan, termasuk memilih kepala daerah.
"Tetapi,
apapun sistem yang diterapkan ke depan, yang terpenting adalah bagaimana
memastikan kebijakan tersebut benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat
luas," pungkas Samri. (adv)
Penulis:
Hairil Riswan
