SAMARINDA – Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) menghubungkan Loa Buah dan Sengkotek kembali menjadi ‘korban’ ponton batubara. Tidak tanggung-tanggung, pada Minggu (4/1/2026), jembatan tersebut ditabrak 2 ponton sekaligus. Suara benturan tersebut sangat keras dan memecahkan keheningan malam.
Peristiwa tabrakan itu berawal saat kapal tunda (tugboat) Bloro
7 menarik tongkang Robby 311 dan Raja Laksana
165 yang menarik tongkang Danny 95 tengah melakukan manuver di
tengah sungai. Mereka sedang menunggu giliran melakukan pengolongan (melintas
di bawah jembatan).
Saat itu, arus Sungai Mahakam diduga mengalir sangat. Hal itu membuat kehilangan
kendali. Kedua ponton raksasa tersebut bersenggolan di tengah sungai,
menciptakan efek domino yang tak terelakkan. Tenaga mesin kapal tunda tak lagi
mampu melawan daya dorong air yang sangat kuat hingga kedua tongkang tersebut
terseret ke arah pilar jembatan.
Seorang warga Loa Buah, Edi, yang sehari-hari akrab dengan napas Sungai
Mahakam, menjadi saksi bisu mencekamnya momen tersebut. Awalnya, ia mendengar
suara gaduh dari frekuensi radio HT yang mengabarkan ada ponton hanyut.
"Saya langsung cek pakai ketinting ke tengah. Benar saja, dua
ponton sudah 'bersandar' di pilar jembatan. Sebelumnya ada suara tabrakan keras
sekali, braakk! Begitu saya sampai, posisinya sudah terjepit," ungkap Edi.
Pemandangan di bawah Jembatan Mahulu pagi itu tampak mengerikan. Satu
ponton terjepit dalam posisi lurus menghantam pilar. Sedangkan ponton lainnya
melintang tepat di bawah dek jembatan menghalangi jalur pelayaran.
Upaya penyelamatan berlangsung dramatis. Di tengah arus masih deras,
petugas dan kru kapal berusaha melepaskan jeratan besi-besi raksasa tersebut
dari pilar jembatan. Butuh waktu sekitar 1 jam hingga satu ponton yang ditarik
3 kapal tugboad tugboad berhasil menjauh ke arah hulu. Sementara satu ponton
lainnya masih tertahan menunggu proses evakuasi lebih lanjut, agar tidak
merusak struktur jembatan lebih parah.
Tugboad Raja Laksana 165 dan ponton Danny 95 masih dibawah jembatan
menunggu evakuasi.
Di lokasi kejadian, personel kepolisian dari Polresta
Samarinda bergerak cepat. Garis polisi dan pemantauan ketat dilakukan
untuk menyelidiki penyebab pasti kecelakaan. Apakah murni faktor alam atau ada
unsur kelalaian manusia (human error) dalam prosedur manuver tersebut.
Insiden berulang ini memicu kekhawatiran publik soal ketahanan struktur
Jembatan Mahulu. Sebagai jembatan yang sudah berdiri selama hampir tiga dekade,
hantaman bertubi-tubi dari ponton batu bara ibarat bom waktu yang mengancam
keselamatan warga yang melintas di atasnya.
Saat ini, warga hanya bisa berharap ada langkah konkret dari otoritas
terkait, baik BBPJN Kalimantan Timur maupun pihak Syahbandar, untuk
memastikan keamanan jembatan dan memperketat aturan pelayaran di jalur nadi Kalimantan
Timur ini. (red)
